PENTINGNYA KAPABILITAS NEGOSIATOR DALAM KERJA SAMA INTERNASIONAL DI BIDANG TEKNOLOGI PERTAHANAN: KASUS PROYEK KFX/IFX

Erlinda Matondang

Abstract


Setiap negara membutuhkan kekuatan pertahanan yang terus diperbarui dan mempunyai teknologi yang canggih. Untuk peningkatan kapasitas teknologi pertahanan tersebut, Indonesia membutuhkan kerja sama dengan negara lain. Dalam pembentukan suatu kerja sama, negosiasi sangat dibutuhkan untuk mengatasi kepentingan negara terkait yang saling bertubrukan. Kapabilitas negosiator yang baik sangat dibutuhkan untuk mencapai kepentingan Indonesia di bidang teknologi pertahanan dalam kerja sama yang dijalin dengan negara lain, termasuk dengan Korea Selatan. Joint Development pengembangan KFX/IFX, yang dibentuk antara Indonesia dan Korea Selatan, membutuhkan kapabilitas negosiator yang memadai, sehingga Indonesia mendapatkan kapasitas teknologi pertahanan yang sesuai dengan kondisi geografi wilayahnya.

 

Kata Kunci: kapabilitas, negosiator, teknologi pertahanan

 


Full Text:

PDF

References


Buku

Baylis, J. et.al. 2014. The Globalization of Word Politics: An Introduction to International Relations 6th Edition. New York: Oxford University Press.

Baylis, J. dan Smith, S. 2001. The Globalization of Word Politics: An Introduction to International Relations 2nd Edition. New York, N.Y.: Oxford University Press.

Evans, G. & Newnham, J. 1998. The Penguin Dictionary of International Relations. London: Penguin Books, Ltd.

Kementerian Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia. 2006. Indonesia 2005—2025: Buku Putih Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Bidang Pertahanan dan Keamanan. Jakarta:Kementerian Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia.

Schreer, Benjamin. 2013. Strategy: Moving beyond Ambitions?. Barton: ASPI.

United Nations Conference on Trade and Development. 2001. Transfer of Technology. New York: United Nations Conference on Trade and Development.

Wright, Elisabeth. 2010. Defense Acquisition Management. Bloomington: iUniverse.

Jurnal

Wulansari, E. M. 2013. “Pemberdayaan Industri Pertahanan Nasional dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan.” Jurnal Legislasi Indonesia. Vol. 10. No. 3.

Undang-undang

Undang-undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan.

Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2013 tentang Organisasi, Tata Kerja, dan Sekretariat Komite Kebijakan Industri Pertahanan

Perjanjian Internasional

Konvensi Jenewa Tahun 1961 tentang Hubungan Diplomatik.

Memorandum of Understanding between the Ministry of Defense of the Republic of the Republic of Indonesia and Ministry of National Defense of the Republic of Korea on Joint Development of Korean Future Fighter.

Makalah

Alfredson, T. dan Cungu A. 2008.“Negotiation Theory and Practice.”EASYPol Module 179.

Gindarsah, I. 2014. “Politics, Security and Defence in Indonesia: Interactions and Interdependencies.” National Security College Issue Brief. No. 4.

Robeyns, I. 2003. “The Capability Approach: An Interdisciplinary Introduction.” Dipaparkan dalam Training Course preceding the 3rd International Conference on Capability Approach di Pavia, Italia,pada 6 September 2003.

Website

Anonim. 2014. “Indonesia and South Korea Agree to Continue KFX/IFX Fighter Development", www.airforce-technology.com, 10 November 2014, diunduh pada 12 Maret 2015.

Anonim. 2014. “Indonesia, South Korea Sign Second Phase of KFX/IFX Fighter Development Agreement”, www.defenseworld.net, 11 November 2014, diunduh pada 12 Maret 2015.

Marboen, Ade. 2014. “Spesifikasi Pesawat Temput KFX/IFX Indonesia bisa Berbeda”, www.antaranews.com, 5 November 2014, diunduh pada 12 Maret 2015.




DOI: http://dx.doi.org/10.33172/jpbh.v5i2.364

Article Metrics

Abstract view : 52 times
PDF - 200 times

Copyright (c) 2018 Jurnal Pertahanan & Bela Negara

View My StatCounter